Bismillahi Allahu Akbar! Ku lambaikan tangan sejajar lampu hijau arah Hajar Aswad Baitullah, Kabah. Langkah perlahan, seraya lantunkan doa. Tak terasa air mata mengalir begitu deras… Isak lirih iringi lafaz doa..

Jarum jam besar di puncak gedung Tower Zamzam menunjuk angka satu, dini hari. Ku turunkan kaki dari mobil bercat putih. Bersama belasan kawan berjalan dalam rombongan. Semua telah berpakaian ihram sejak dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, punya niat sama, Umrah.

Langkah kegembiraan penuh semangat. Kalimat Talbiyah terus terucap nyaris tiada henti. Hatiku berdebar. Bagiku, ini bukan pertama kali berhaji. Namun rasa rindu itu selalu menguat. Rasa rindu mengharap ridha Nya.

Lantai putih marmer. Suasana pelataran luar Masjidil Haram malam itu, tidaklah ramai. Maklum, jemaah haji Indonesia dan sebagian besar banyak negara belum datang. Nampak beberapa gerombol orang Pakistan dan India. Selebihnya penduduk setempat, keluarga bersama anaknya. Duduk, berjalan, shalat, melepas santai.

Bersama rombongan, terus langkahkan susuri pinggiran menuju Pintu Ismail. Aroma harum, aroma khas menyeruak hidung saat masuk Masjidil Haram. Hamparan karpet merah sebagian menutupi lantai. Deretan orang duduk bertafakur, berdzikir. Di ujung jalan nampak deretan drum air Zamzam.

Ku hentikan langkah sejenak di anak tangga pinggiran bangunan masjid. Memandang kagum tengah pelataran. Benda kubus berbalut kain sutra, hitam bertulis kalimat Allah, itulah Kabah. Setiap kali memandangnya, ada rasa bergolak, rindu, dan pasrah. Sekilas kulihat keceriaan anak-anak bermain, balita tertidur di pangkuan ibunya, suami istri bercengkerama santai. Beberapa duduk, memandang bangunan ditengah, baca kitab suci, mengabadikan melalui hp di tangan. Di tengah sana, ratusan orang berjalan mengitari Kabah, tawaf. Sejak turun dari mobil, sudah ku kuatkan hati, “jangan menangis”. Namun sejak langkah pertama tawaf, hatiku tak sanggup lagi tuk menahan. Betapa kurasakan sesak dada ini. Tangis pun pecah. Segitu banyak orang sejalan bertawaf, tak terhiraukan. Ku tumpahkan rasanya rinduku pada Mu seraya memohon ampun atas segala dosa kedua orang tuaku. Tergambar sosok ibu, dan mendiang ayahku. Hanya itu yang kuingat. Sesekali mataku tertuju jam warna hijau di puncak gedung. Tidak lebih dari tiga puluh menit, tujuh putaran selesai sudah. Kaki melangkah bergerak keluar mengambil jarak tempat sejajar Multazam. Shalat sunah dua rakaat. Jarum jam mendekat angka tiga. Ritual umrah dilanjutkan Sai, berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah, tujuh kali. Hawa dingin merasuk disela jari kaki. Lelah mulai terasa disetiap tapakan langkah. Dingin air Zamzam menjadi pelepas dahaga, memberi kesegaran raga, sekaligus menambah tenaga. Rangkaian ritual umrah ditutup dengan tahalul. Dengan gunting yang telah kusiapkan, potong beberapa helai rambut, dan buang di tempat sampah. Pertanda selesai, boleh lepaskan kain ihram dan halalnya seluruh larangan ihram. Melepas lelah, selonjoran kaki di bukit Marwah. Tak lama berkumandang suara adzan subuh. Pagi menyingsing, saatnya mengisi perut. Tak sulit dapatkan makanan siap saji pengganjal perut di pinggiran Masjidil Haram. Keluar dari Masjidil Haram, bagi jemaah yang belum terbiasa menjadi persoalan tersendiri. Terlebih jemaah “sepuh” atau terlepas dari rombongan. Masjid seluas sepuluh kali lapangan bola, dengan ornamen pilar hampir serupa, bikin mata nanar saat cari jalan keluar, dikerumunan ratusan ribu jemaah. Struktur bangunan meling-kar, kelilingi Kabah, sulit mengingat arah mata angin. Ber-beda dari Indo-nesia, shalat selalu menghadap arah barat sedikit serong kanan. Namun mata angin sebagai pena nda arah shalat ti-dak berlaku di Tanah Suci. Semua melingkar menghadap Kabah. Maka orientasi menjadi penting. Saat masuk, pertama kuingat dimana posisi dari gedung dengan jam besar dipuncaknya. Tidak cukup mengandalkan nomor atau nama pintu, yang angka tidak mudah dibaca dari jauh. Iya, jam besar jadi patokan posisi saat masuk dan keluar masjid. Saat tersesat di Masjidil Haram, paling mudah jalanlah mendekat gedung dengan jam besar di atasnya. Keluar dari masjid, menuju pelataran luar. Di sini tempat lebih terbuka, bagi petugas haji lebih leluasa menemukan jemaah. Hari ini, hari yang ku tunggu. Sesuai jadwal tanggal 8 Dzulhijjah bersiap menuju padang Arafah. Ke sana tujuan puncak berhaji, wukuf. Pagi nan cerah seperti biasanya. Langit tak nampakkan awan sedikitpun. Mesti pagi, teriknya menarik terasa menyengat kulit. Padang Arafah, konon yang dulu tandus, kini mulai rimbun tumbuhan Soekarno. Tanaman ini tumbuh hampir disetiap sudut tenda. Tak lagi terasa terik saat siang. Jalanan tertata rapih. Setiap bloknya berpagar kawat, lindungi jemaah melintas ke jalan raya. Disinilah dimulai titik kelelahan kita sebagai jemaah menjalankan ibadah haji. Kurang tidur, akan menjadi bagian rangkaian selama empat hari kedepan. Setidaknya kenyamanan tidur terganggu, tidak lagi senyaman di hotel. Malam pertama di Arafah, waktu tidur mulai berkurang. Kualitas tenda meski sudah mengalami¬†

peningkatan signifikan, tetap tidak senyaman kamar tidur. Tidak ada kasur, bantal, atau selimut. Apapun kondisnya tidurlah, esok hari bersiap wukuf. Siapkan doa-doa terbaik. Karena waktu dan tempat sangat mustajab panjatkan doa. Malam kedua, nyaris tidak tidur. Mulai sore, jemaah berangsur dari Arafah ke Muzdalifah. Istirahat sebentar hingga lewat tengah malam, sambil ambil batu untuk lempar jumrah. Di sini tidak tenda, hanya alas penghalang dari hangatnya pasir. Toilet pun minim. Usai tengah malam bergerak lagi ke Mina. Maka saat tiba di tenda Mina, gunakan waktu untuk istirahat. Tak perlu lakukan banyak aktivitas. Siang atau sore perjalanan masih panjang menuju jamarat, hingga tiga atau empat hari berikutnya. Disini ketahanan jalan kaki jemaah akan teruji, menempuh jarak 10-15 kilometer setiap harinya. Sangat melelahkan. Persiapan berangkat haji memang harus dirancang matang, termasuk barang bawaan. Setidaknya untuk kebutuhan selama 40 hari bukanlah barang sedikit. Ditambah dengan kebutuhan perlengkapan ibadah, dan makanan favorit perlu dibawa. Namun semua itu dibatasi muatan koper maksimal 32 kilogram. Sebenarnya tidak ribet mensiasati. Ukuran koper 32 kilogram dan kabin 7 kilogram sudah lebih dari cukup bawa kebutuhan jemaah. Ukuran ini sudah dihitung cermat, tidak merepotkan dan membebani pesawat. Pertama, penulis coba membuat ceklis barang kebutuhan, semuanya. Pakaian, peralatan, obat, perangkat ibadah, makanan, dan lainnya. Buat sedetil mungkin. Ceklis ini sekaligus pengingat dan penanda saat barang masuk koper. Kedua, buat prioritas hingga akhirnya barang dirasa cukup masuk koper. Pastikan tersisa ruang kosong baik di koper maupun tas kabin. Pilah, mana barang masuk koper, mana tas kabin. Ini penting, terutama kain ihram. Karena selama perjalanan jemaah tidak ketemu koper sampai di hotel. Beberapa kali berhaji, penulis coba gunakan sepertiga ruang koper untuk pakaian. Karena sebagian besar sudah masuk tas kabin. Ruang sisa koper gunakan untuk peralatan, bahan kebutuhan lain dan makanan. Bila bawa makanan, terutama basah, pastikan tertutup rapat dalam bungkus berbahan kuat dan tidak mudah mengembang. Ketiga, jangan bawa barang yang dilarang, secara regulasi penerbangan maupun budaya Saudi. Contoh obat-obatan berlebihan, rokok berlebihan, herbal yang mengandung zat aditif, atau jimat. Saat pulang, upayakan seluruh barang bawaan masuk tas kabin dan koper. Pihak maskapai tidak izinkan jemaah bawa barang selain kedua tas tersebut. Namun bila oleh-oleh berlebih, mending gunakan jasa pengiriman barang. Semoga mabrur… (Rosidin Karidi)